Lahan Gambut Tropis Purba Kapuas Hulu Berpotensi Dikembangkan Jadi Destinasi Ekowisata

PUTUSSIBAU — Potensi lahan gambut tropis purba di Kabupaten Kapuas Hulu menjadi salah satu topik yang dibahas dalam pertemuan antara Brigjen TNI Firman, Ketua Penyuluh Karhutla dari Mabes TNI, dengan Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kabupaten Kapuas Hulu, Drs. H. Iwan Setiawan, M.Si.

Pertemuan tersebut digelar dalam rangka mempererat silaturahmi sekaligus bertukar informasi mengenai potensi lingkungan dan pariwisata di Kabupaten Kapuas Hulu. Salah satu perhatian utama adalah keberadaan kawasan gambut tropis purba yang memiliki nilai ekologis, sejarah, serta potensi wisata edukasi dan ekowisata.

Dalam pertemuan itu disampaikan bahwa lahan gambut tropis yang berada di pedalaman utara Kota Putussibau diperkirakan telah terbentuk sejak sekitar 47.800 tahun lalu berdasarkan penanggalan karbon. Kawasan tersebut juga disebut memiliki kedalaman gambut hingga sekitar 18 meter.

Gambut terbentuk dari akumulasi sisa-sisa bahan organik, seperti kayu dan daun, yang terawetkan dalam kondisi jenuh air. Tingginya permukaan air menyebabkan proses pembusukan berlangsung tidak sempurna sehingga bahan organik tersebut terakumulasi selama ribuan tahun.

Keberadaan gambut purba tersebut dinilai memiliki arti penting, tidak hanya dari sisi ekologis sebagai penyimpan karbon, tetapi juga dari aspek ilmiah. Lapisan gambut dapat menyimpan rekaman kondisi lingkungan dan memberikan informasi mengenai perubahan iklim serta kondisi ekosistem pada masa lampau, khususnya di kawasan ekuator.

Kawasan gambut tersebut sebelumnya juga telah menjadi perhatian tim ilmuwan dari University of Oregon dan dipublikasikan dalam jurnal Environmental Research Letters. Hal ini semakin memperkuat nilai ilmiah dan pentingnya menjaga keberadaan kawasan gambut purba di Kapuas Hulu.

Dalam kesempatan tersebut, Brigjen TNI Firman turut menyampaikan pentingnya menjaga kelestarian kawasan gambut serta mendorong pemanfaatannya secara bijaksana. Menurutnya, potensi lingkungan yang memiliki nilai sejarah dan ilmiah tersebut perlu dijaga agar tidak mengalami kerusakan, terutama akibat ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Kepala Disporapar Kapuas Hulu, Drs. H. Iwan Setiawan, M.Si., menyambut baik informasi dan gagasan yang disampaikan. Ia menilai keberadaan lahan gambut tropis purba dapat menjadi potensi baru dalam pengembangan pariwisata berbasis lingkungan dan edukasi di Kabupaten Kapuas Hulu.

Ia berharap kawasan tersebut dapat dikelola secara berkelanjutan menjadi salah satu destinasi wisata edukasi dan ekowisata yang memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar, namun tetap mempertahankan fungsi ekologisnya.

Menurutnya, pengembangan destinasi wisata harus dilakukan dengan memperhatikan daya dukung lingkungan. Karena itu, aspek konservasi dan perlindungan kawasan menjadi bagian penting dalam setiap rencana pengembangan potensi wisata gambut purba tersebut.

Upaya pencegahan karhutla juga menjadi perhatian utama. Kawasan gambut yang tetap terjaga dari kebakaran tidak hanya berfungsi sebagai penyimpan karbon dan habitat alami, tetapi juga dapat dipertahankan sebagai kekayaan alam yang memiliki nilai edukasi dan daya tarik wisata.

Kolaborasi antara pemerintah daerah, berbagai pihak terkait, serta masyarakat diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam menjaga sekaligus mengembangkan potensi lahan gambut tropis purba tersebut.

Dengan pengelolaan yang tepat dan berkelanjutan, kawasan gambut purba Kapuas Hulu berpeluang menjadi destinasi wisata berbasis konservasi yang memperkenalkan kekayaan alam, sejarah lingkungan, dan pentingnya perlindungan ekosistem gambut kepada masyarakat maupun wisatawan.

Share this post